Asal-usulDi sebuah kampung yang ada di daerah
Kabupaten Cianjur
bagian selatan, tepatnya Kampung Rawa Salak, Desa Purabaya, Kecamatan
Agrabinta, ada satu jenis kesenian tradisional yang hampir punah.
Kesenian itu bernama goong renteng. Nama tersebut sangat erat kaitannya
dengan alat musik yang digunakan, yaitu goong (gong). Alat musik yang
bentuknya serupa dengan gong pada umumnya, tetapi ukurannya lebih kecil
ini berjumlah 6 buah dan direnteng (disusun secara horisontal ke
samping). Oleh karena itu, kesenian tersebut dinamakan goong renteng.
Kapan dan darimana kesenian ini berasal sulit diketahui secara pasti.
Namun demikian, berdasarkan penuturan masyarakat setempat, khususnya
para orang tua, konon di masa lalu balatentara (pasukan) Mataram --dalam
perjalanannya dari Batavia (Jakarta) ke Kotagede (Yogyakarta)-- singgah
di daerah Cianjur. Bahkan, banyak diantaranya yang kemudian menetap di
Kadupandak (Cianjur-Selatan). Di daerah tersebut mereka mengembangkan
kesenian yang kemudian disebut sebagai “goong renteng”.
Tumbuh
dan berkembangnya goong renteng di Kampung Rawa Salak adalah berkat
salah seorang warganya yang bernama Akum. Untuk mengembangkan kesenian
tersebut di daerahnya, ia membeli seperangkat goong renteng dari salah
seorang warga Cukanggaleuh, Kecamatan Kadupandak. Ketika itu (kira-kira
tahun 1916) harganya 15 ringgit masih ditambah dengan seekor kerbau dan
seekor kuda. Seperangkat gamelan inilah yang digunakan untuk ber-goong
renteng dari dahulu hingga sekarang. Dengan perkataan lain, dari
generasi pertama (1916) yang tokohnya adalah Akum, generasi kedua (1938)
yang tokohnya adalah Mali, sampai generasi ketiga (1970) yang tokohnya
adalah Uma. Mereka adalah masih satu darah (keturunan). Ini artinya
bahwa kesenian goong renteng diwariskan secara turun-temurun dari anak
ke cucu.
PeralatanSeperangkat
kesenian goong renteng terdiri atas: 1 buah kendang (gendang) besar, 2
buah kulanter (gendang kecil), 16 buah bonang (gong kecil), 2 buah gong
besar, dan 3 lembar kecrek. Gendang terbuat dari kayu dan kulit, bonang
dan gong terbuat dari perunggu, dan kecrek terbuat dari besi. Peralatan
tersebut masing-masing mempunyai fungsi tersendiri.Gendang misalnya, ia
berfungsi sebagai pengatur tempo. Gong besar berfungsi sebagai penutup
lagu dan sekaligus pemuas rasa. Kemudian, kecrek berfungsi sebagai
penambah sari irama; dan bonang berfungsi sebagai melodi.
Pemain dan BusanaJumlah
pemainnya ada 3 orang dengan rincian: 3 orang sebagai penabuh bonang, 1
orang sebagai penabuh gendang, 1 orang sebagai penabuh gong besar, dan 1
orang sebagai penabuh kecrek. Ke-6 pemain tersebut semuanya lelaki.
Dalam suatu penyajian atau pergelaran, mereka mengenakan pakaian khas
Sunda yang berupa pangsi dan iket.
PementasanPementasan
kesenian goon renteng ini bisa dilakukan pada ruang terbuka atau
tertutup. Hal itu bergantung pada pemintaan dan tempatnya memungkinkan.
Adapun bentuk sajiannya berupa karawitan gending. Pementasan diawali
dengan penyajian tabuhan jiro dan angkatan. Setelah itu, baru
dilantunkan lagu-lagu dalam bentuk instrumental. Banyak judul lagu yang
dinstrumentalkan, antara lain: bongkang, kangkangkot, jangjang odeng,
keupat hayam, dan poek-poek ludeung.
FungsiGoong
renteng pada mulanya hanya sekedar untuk mengisi waktu luang. Jadi,
hanya merupakan klangenan (hiburan) semata untuk mengalihkan perhatian
dari rutinitas kesehariannya sebagai petani. Lama-lama kesenian ini
menjadi pengiring dalam upacara tutup tahun (akhir panen). Seperangkat
alat musiknya pun menjadi berbau magis. Hal itu tercermin dari adanya
upacara suci yang disebut “dimuludken”. Tujuan upacara ini disamping
agar peralatan musik tetap bersih (terpelihara dengan baik), juga
sebagai upacara untuk mengenang para leluhur. Dengan tampilnya dalam
setiap upacara tutup tahun, maka kesenian ini dikenal banyak orang. Dan,
karena banyak yang mengenalnya, maka akhirnya ia tidak hanya
dipentaskan pada upacara tutup tahun saja, tetapi pada khajatan
seseorang (khitanan dan perkawinan) dan hari-hari besar nasional,
khususnya hari kemerdekaan Republik Indonesia (17-Agustusan).
Ini
artinya, fungsi kesenian tradisional goong renteng yang pada mulanya
hanya sekedar sebagai hiburan dalam perkembangan tidak lagi hanya
sebagai hiburan, tetapi juga sebagai suatu ungkapan terima kasih, baik
kepada Yang Maha Kuasa maupun para pendahulunya. Lepas dari berbagai
fungsi itu, sesungguhnya kesenian yang ditumbuh-kembangkan oleh suatu
masyarakat sekaligus berfungsi sebagai identitas masyarakat yang
bersangkutan. Ini bermakna bahwa kesenian tradisional goong renteng
merupakan salah satu unsur jatidiri masyarakat Kampung Rawa Salak, Desa
Purabaya, Kecamatan Agrabinta, Kabupaten Cianjur.
Nilai BudayaSeni
apa pun, termasuk kesenian tradisional goong renteng, sangat erat
kaitannya dengan unsur keindahan. Ini artinya bahwa dalam goong renteng
terkandung nilai estetika. Namun demikian, jika dicermati secara seksama
goong renteng tidak hanya memiliki nilai esteika semata, tetapi ada
nilai-nilai lain yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan
dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai
itu antara lain adalah kerjasama, kekompakan, ketertiban, ketekunan, dan
kerja keras. Nilai kerjasama terlihat dari adanya kebersamaan dalam
melestarikan warisan budaya para pendahulunya. Nilai kekompakan dan
ketertiban tercermin dalam suatu pementasan yang dapat berjalan secara
lancar. Nilai kerja keras dan ketekunan tercermin dari penguasaan dan
teknik pemukulan goong renteng. Sebab, jika tidak didasari oleh kerja
keras dan ketekunan bukan hal yang mustahil seseorang dapat
menguasainya. (gufron)
Sumber:Galba, Sindu.2007. “Kesenian Tradisional Masyarakat Cianjur”.
Tim Seksi Kebudayaan.2002. Deskripsi Seni Tradisional Reak. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur.